Kamis, 20 Mei 2010

Bahaya dari Merokok

ADA seseorang yang pernah bermimpi masuk surga dan merasakan berbagai macam kenikmatan, namun dia merasa ada yang kurang : Susah merokok sebagaimana kebiasaannya di dunia.
Dalam mimpinya, dia meminta izin kepada malaikat untuk merokok. Tapi malaikat berkata, “di Surga tidak ada api, kalau anda mau api pergi saja ambil di neraka”. Pada saat dia keluar dari surga dan melihat neraka yang begitu panas, dia ingin kembali lagi ke Surga. Pintu Surga sudah tertutup. Pada saat itu dia langsung terbangun dari tidurnya. Dan Alhamdulillah, karena mimpinya itu, dia taubat merokok. Berhenti merokok !
Seseorang yang selalu membiasakan dirinya merokok, pastilah akan kecanduan dan sulit untuk berhenti untuk meninggalkanya. Saya kira, semua orang sudah tahu bahaya rokok, karena di bungkusan rokok sudah tertulis peringatan : “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Tapi mengapa masih banyak juga orang yang merokok ?
Banyak juga orang yang berkeinginan berhenti merokok, tapi tak bisa. Namun beberapa diantaranya memang berhasil menghentikanya. Dari cerita-cerita mereka, resepnya sederhana : Pertama, tinggal di lingkungan bebas dari asap rokok; kedua, bertekad kuat dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak pernah lagi menyentuh rokok. Jika keduanya dilakukan dengan dibantu do’a, Insya Allah pasti bisa.
Banyak ulama yang berbeda pendapat tentang rokok, ada yang mengatakan haram dan ada yang bilang makruh dan mu’tamad. Ahli fiqih yang mengharamkannya, berpedoman pada firman Allah Swt, sebagai berikut : “. . .dia menghalalkan bagi mereka yang baik dan mengharamkan yang buruk” (QS: Al A’raf: 157); “Jangan kalian bunuh diri kalian sendiri, sesungguhnya Allah maha penyayang terhadap diri kalian” (QS: An-Nisa:29) dan “Jangan kalian lemparkan diri kalian dalam kehancuran” (QS: Al-Baqarah: 195)
Merokok, menurut kelompok uluma yang mengharamkan rokok, termasuk perbuatan yang membahayakan karena dapat menghancurkan dan membunuh diri kita, sebagaimana tertulis dalam peringatanya: “Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin”. Karena itu, merokok adalah perbuatan haram.
Habib Husein Bin syech Abu Bakar bin Salim, pernah membeli dan mengumpulkan seluruh rokok yang ada di Hadramaut untuk dimusnahkan, kemudian beliau berkata : “barang siapa sebelum 40 hari dari meninggalnya tidak mau bertaubat dari merokok, ditakutkan mati dalam keadaan suul khotimah. Semoga Allah melindungi kita”.
Selain kelompok ulama yang mengharamkan rokok, terdapat juga kelompok ulama yang hanya berpandangan hukum merokok adalah makruh dan mu’tamad. Alasanya, karena tidak terdapat nash yang mengharamkan. Mungkin karena rokok merupakan sesuatu yang baru. Budaya merokok baru muncul pada tahun 1012.***

Hakekat Hati Mukmin

HATI memiliki kecenderungan, gejala dan subtansi yang menjadikannya bisa bersifat rabbani sekali waktu atau syaithani di waktu lain. Agama ini datang untuk mengarahkan hati manusia untuk menuju hakikatnya yang lurus. Apakah hati yang lurus itu ?
Hassan Banna rahimahullah, dalam salah satu ceramahnya mengatakan, hati seorang mukmin adalah hati yang sensitif dan terbuka. Terbuka untuk menerima hakekat sesuatu dan jauh dari sifat keras. Kesimpulan ini merujuk dai sejumlah firman Allah, diantaranya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah maka bergetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayatNya, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang telah kami berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sebenarnya” (QS: 8:2-3)
“Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang patuh yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, orang-orang yang sabar terhadap apa yang menimpa mereka, orang-orang yang mendirikan shalat dan orang-orang yang menafkahkan sebagian dari apa yang telah kami rezekikan kepada mereka” (QS: 22:34-35)
Dalam hati seorang mukmin, terhadap dinamika sensitivitas dan perasaan dia jauh dari alpa. Jauh dari sifat kasar dan membatu, serta jauh dari kekurangan. Hatinya senantiasa peka, sehingga senantiasa melakukan koreksi diri atas berbagai dosa yang dilakukan. Sensitivitas merupakan keharusan hati orang-orang beriman seperti yang dinyatakan dalam QS Al-Hajj, ayat 35: “orang-orang yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka”.
Adapun hati orang-orang yang tidak beriman, hati mereka keras membatu seperti dinyatakan dalam QS: Az-Zumar, ayat 22: “Maka celakalah orang-orang yang hati mereka telah keras membatu untuk mengingat Allah. Mereka itu berada dalam kesesatan yang nyata”.
Hati seorang mukmin yang dikehendaki oleh Islam adalah hati yang senantiasa merasakan adanya hubungan dengan Allah yang maha Agung. Ia selalu bersama Allah dan tidak pernah berpisah sekejap pun. Demikianlah hati orang beriman, perasaan Muraqabahtullahnya semakin kuat.
Ia menyakini betul bahwa Allah senantiasa mendengar dan melihatnya, serta selalu mengawasinya dalam keadaan lapang maupun sempit. Ia juga menyakini bahwa Allah swt., kuasa melakukan segala yang dikehendakinya. Jika dia melakukan satu gerakan saja, gerakan itu tercantum dalam buku induk amalnya (diwanul amal). Dalam kondisi apapun, ia selalu bersama Allah swt., sebagaimana digambarkan dalam beberapa firmanNya:
“Apakah mereka mengira bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka ? Sebenarnya kami mendengar, dan utusan-utusan (malaikat) kami pun mencatat disisi mereka” (QS: Az- Zukhruf : 80); “Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dan kami mengetahui apa yang dibisiakan hatinya, dan kami lebih dekat kepadanya lebih dari urat lehernya (QS: Qaaf : 16); “Dan jika kalian mengeraskan ucapan kalian sesungguhnya Dia mengetahui rahasia dari yang tersembunyi” (QS: Thaha : 7).
Orang yang beriman tentunya menyakini hal ini dan merasakannya. Disamping itu akan terlihat olehnya apa yang ada dibalik “tirai”. Ia akan melihat bahwa Allah swt., itu lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya sendiri, dan ia akan menimbang amal perbuatannya dengan timbangan syaria.
Demikian seorang mukmin itu hidup di dunia. Hatinya sensitif, ia tidak akan melakukan kejahatan dan tidak akan menolak kebaikan. Bahkan ia selalu terikat dengan Allah swt. Ia beriman dengan apa yang ada dibalik kehidupan dunia ini. Ia akan selalu merasa bahwa Allah swt., selalu melihat dan mengawasinya dimana saja ia berada, baik di rumah, di jalan, di pabrik, di ladang dan seterusnya.
Inilah yang dinamakan iman, kepekaan dan hubungan dengan Allah swt.,serta kesadaran akan pengawasan Allah terhadap kita. Semoga kita selalu meningkatkan kualitas hati, dan iman kita. Wallahul Musta’an.

Amalan Lahir vs Amalan Hati

DI zaman Nabi Musa a.s., ada seorang hamba Allah yang selama 40 tahun kerjanya mencuri. Suatu hari, dilihatnya Nabi musa a.s. sedang berjalan. Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk berjalan bersama Nabi Musa a.s. “Jika aku dapat berjalan bersama Nabi Musa, mudah-mudahan ada berkahnya untukku,” katanya dalam hati.
Namun dia kembali ragu. “Aku ini pencuri, mana layak berjalan bersama seorang nabi,” pikirnya mengurungkan niatnya semula.
Sejurus kemudian, dia melihat seorang abid (ahli ibadah) berlari-lari kecil mengejar Nabi Musa a.s. dari belakang. Semua orang tahu, si abid ini telah beribadah secara istiqomah selama 40 tahun. Si pencuri itu berkata dalam hati, “sebaiknya, aku berjalan bersama si abid ini saja. Moga-moga ada baiknya untuk aku.”
Lantas si pencuri menghampiri si abid untuk meminta diperkenankan bejalan bersama. Tapi ketika dia mulai mendekat, si Abid terkejut dan merasa takut. “Celaka aku..! Kalau si pencuri berjalan bersamaku, bisa-bisa rusak segala kebaikan dan amalanku,”katanya dalam hati.
Maka si abid pun mempercepat larinya untuk menghindari si pencuri. Demikian halnya dengan si pencuri. Dia juga mempercepat larinya mendekati si abid. Akhirnya keduanya sampai kepada Nabi Musa a.s.
Nabi Musa a.s. segera berpaling dan bersabda kepada mereka berdua: “Aku baru saja mendapat wahyu dari Allah swt., supaya memberitahu kamu bahwa segala amalan baik dan buruk kalian berdua telah dihapus oleh Allah.”
Mendengar sabda itu, terkejutlah mereka berdua. Tentu saja si pencuri terkejut bahagia, karena segala dosanya mencuri selama 40 tahun telah ditolak oleh Allah.
Rupanya si pencuri itu tidak suka dengan pekerjaanya. Dia mencuri karena terpaksa, karena miskin dan tanggungannya banyak. Tak ada orang yang mau membantunya. Setiap kali dia mencuri, dia selalu merasa bersalah dan berdosa. Jiwanya tersiksa dan menderita selama 40 tahun itupula hatinya merintih meminta belas kasihan, keampunan dan mengharapkan kasih sayang Tuhan.
Akan halnya si abid, dia amat yakin ibadahnya mampu menyelamatkannya. Dia yakin ibadahnya akan dapat membeli syurga. Setiap kali dia beribadah, dia merasa dirinya bertambah baik. Setiap kali beribadah, dia rasa dirinya bertambah mulia. Selama 40 tahun dia mendidik hatinya agar merasa lebih baik dan lebih mulia. Hingga dia mulai merasa tidak layak bergaul, apalagi berjalan bersama orang hina dan pendosa. Dia merasa hanya layak berjalan bersama para Nabi.
Tapi begitulah, Allah maha mengetahui segala isi hati manusia. Yang tidak melihat akan amalan-amalan lahir tetapi apa yang ada di dalam hati. Yang menilai hamba-Nya mengikut apa yang termampu oleh hamba-Nya dan tidak lebih dari itu. Yang menguji manusia dengan kesusahan dan nikmat untuk mengetahui siapa di kalangan hamba-hamba-Nya yang benar-benar berjiwa hamba dan merasa bahwa Allah itu Tuhannya. Wallahul Muata’an.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al kitab (al-qur’an) dan dirikanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan yang keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingati Allah (sholat) adalah lebih besar (keutamaanya dari ibadah-ibadah yang lain) dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Surah Al’Ankabut – 45)

Ayam Kampung vs Ayam Negeri

SUATU hari, seorang ayah dan anak laki-lakinya sedang memberi makan ayam peliharaan mereka. Ada ayam kampung, ada juga ayam negeri. “Nak, kalau harus memilih, mana yang kau lebih suka, menjadi ayam negeri atau ayam kampung,“ Tanya sang ayah iseng.
“Ini hanya sebuah permisalan. Bila kelak kau dewasa, ada dua cara hidup yang kau pilih. Seperti ayam negeri atau mau seperti ayam kampung,“ jelas ayahnya.
“Hmm. . . aku tahu ! Aku akan memilih cara hidup ayam kampung. Ia selalu bebas pergi kemana saja ia mau. .”, jawab sang anak dengan antusias dengan senyumnya.
Sang ayah ikut tersenyum, membenarkan pilihan anaknya. “Selain kebebasan, masih banyak hal lain yang bisa kita ambil dari kehidupan ayam kampung, dibanding ayam negeri , “ tambah sang ayah, sambil menjelaskan perbandingan cara hidup ayam kampung dan ayam negeri.
Pertama, ayam kampung selalu bebas pergi ke mana saja mencari makan, bermain, dan bercengkrama. Pada malam hari bisa tidur seadanya di mana saja. Sedangkan ayam negeri siang malam ada di kandang yang nyaman dan bersih. Kesehatan lingkunganya di jaga, bahkan temperatur ruangan harus selalu diatur dengan nyala lampu agar tetap hangat.
Kedua, ayam kampung mandiri dalam mencari makanan. Berjuang sendiri menyibak semak-semak, mengorek sampah, merambah selokan. Bahkan berpanas hujan menyantap apa saja yang didapat demi menyambung hidup yang keras dari hari ke hari. Sementara ayam negeri, disediakan makanan khusus oleh majikanya. Penuh gizi dan bebas hama. Jadwal teratur, dan tidak boleh menyentuh makanan sembarangan. Sekali-kali pada waktu-waktu tertentu, ayam negeri juga diberi suntikan agar lebih sehat dan produktif.
Ketiga, meskipun dimanjakan fasilitas hidup yang nyaman dan instan, ternyata ayam negeri sangat sensitif. Jika terjadi penyimpangan ritme (cara) hidupnya, maka sakitlah dia. Bahkan jika satu saja sakit, yang lain pun cepat tertular penyakit temanya dan akhirnya semua mati. Beda dengan ayam kampung. Tubuhnya sehat dan kuat. Berkat gemlengan alam, dia memiliki kekebalan terhadap perubahan kondisi. Dia pun memiliki rasa pengorbanan, tidak ragu untuk menyibak semak, mengorek sampah dan merambah selokan, berpanas dan berhujan sambil membimbing anak-anaknya mencari makan, agar mereka tegar seperti induknya.
“Jadi, meskipun ayam negeri bergelimang kenyamanan hidup, ternyata dia sudah kehilangan identitasnya sebagai mahluk bebas. Statusnya sudah diubah oleh manusia. Mesin penghasil telur dan daging secara massal untuk kepentingan manusia. Sedangkan ayam kampung tetap menikmati kodratnya sebagai mahluk bebas dan mandiri,” ungkap sang ayah mengakhiri penjelasanya.
Dua gaya hidup di atas tentu saja mengandung lesson learn (hikmah) yang bisa kita serap sebagai pelajaran meniti hidup. Semaunya terpulang kepada kita, khususnya generasi muda sebagai asset ummat ke depan. Apakah mau memilih gaya hidup ayam kampung atau ayam negeri ? Wallahul Musta’an.

Memelihara Lidah

MEMANG lidah tak bertulang, tak terbatas kata-kata. Demikian penggalan lagu tempo doeloe yang sangat populer. Syair lagu ini hendak mengingatkan kita bahwa lidah itu lentur dan sukar untuk dikendalikan. Nabi Muhammad SAW, malah menegaskan : “Wahal yakubbunnasu finnaari alaa wujuhihim au alaa manaa khirihim illaa hashaidu alsinatihim”. Tidaklah manusia itu dilontarkan (dijungkirkan) kepalanya ke api neraka kecuali akibat perbuatan lidah mereka. Nauzu billah min zalik. Semoga Allah SWT melindungi kita dari bencana yang diakibatkan oleh lidah kita. Amiin.
Karena itu penggunaan lidah yang benar merupakan bagian dari nilai ketaqwaan. Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah yang benar niscaya Allah akan memperbaiki segala amalanmu dan mengampuni segala dosamu, dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasulnya, maka ia telah memperoleh kemenangan yang besar,” (QS.Al- Ahzab/33:70-71).
Berbicara menggunakan lidah yang tak bertulang itu, memang hak semua orang. Namun harus disadari bahwa setiap ucapan yang dibunyikan oleh lidah kita selalu punya pengaruh bagi yang mendengarkan. Pengaruhnya bisa baik bisa buruk. Dan kadar pengaruh itu juga sangat dipengaruhi oleh posisi dan jabatan si pengucap dalam masyarakat.
Ucapan seorang petani, tentu saja berbeda kadar akibatnya dengan ucapan seorang kepala desa. Begitu pula dengan kepala desa, kadar akibat dari ucapanya akan berbeda dengan kadar atau pengaruh ucapan seorang camat dan bupati, terlebih lagi tokoh masyarakat, ulama atau pemimpin Negara. Tentu akan jauh sekali akibat yang akan ditimbulkannya.
Perkataan seseorang adalah cerminan atau gambaran dari kepribadianya atau jati dirinya. Karenanya, untuk menjaga kehormatan, seseorang harus menjaga perkataanya dari hal yang sia-sia, tidak bermanfaat (abats) dan kelewat batas (kebablasan). Nabi Muhammad SAW, besabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berkata yang baik, atau jika ia tidak bisa melakukanya, hendaknya ia diam saja”. (HR Muslim). Karenanya, bila berbicara itu dinilai sebagai perak, maka diam itu dinilai sebagai emas. Begitu ungkapan populer di kalangan orang-orang bijak.
Tentu saja kita tidak boleh diam terus menerus ketika orang meminta nasehat atau pendapat. Begitu juga ketika kemungkaran merajalela, kita harus angkat suara. Kita tampil denga modal ‘lidah’ (lisan maupun tulisan), ‘tangan’ (kekuatan doa dan munajat kepada Allah). Inilah tiga instrument yang disebutkan Nabi Muhammad SAW yang patut digunakan untuk menyuarakan dan menegakkan kebenaran. “Man ra’a minkum munkaran, falyugaiyyiruhu biyadihi, fainlam yastathi fabilisanihi, wainlam yastathi fabiqalbihi.” Apabila kamu melihat kemungkaran dimuka bumi, maka perbaikilah dengan tanganmu, bila tidak sanggup dengan lisanmu, dan bila itupun tidak sanggup, maka bencilah dengan hati.
Namun upayah menyuarakan kebenaran itu, hendaknya lidah kita dipelihara dan dikendalikan dengan sebaik-baiknya agar tidak keluar dari konteks dan momentumnya. Sehingga yang mendengar merasa enak dan mengucapkanya memperoleh pahala dari Allah SWT. Ada sebuah ungkapan yang selalu diingat, “salamatul insaan fi hifdzhil lisan”. Keselamatan seseorang tergantung dari bagaimana ia menjaga lidahnya. Wallahul Musta’an

Ilmu dan Akhlak

BERGIATLAH kalian menuntut ilmu hai para murid Alkhairaat. Orang-orang berilmu menempati derajat yang tinggi. Niatkanlah dengan mempelajarinya, agar kamu mengikuti kebenaran agama, karena amal-amal itu tergantung niatnya.
Datangilah kebun-kebunnya dan bersenang-senanglah di situ. Jalannya benar-benar jalan yang menyampaikan. Warisan Rasul adalah tujuan yang paling mulia, maka siapa yang mencarinya hendaklah ia atasi hambatan-hambatanya.
Ilmu itu cahaya di dalam hati dan pemiliknya, mereka telah mencapai derajat di syurga. Mereka berteduh dengan naungannya dan bergantung pada talinya di seluruh waktu. Tuhan yang Maha Pemurah memberikan karunia-Nya berupa kemenangan, pertolonga dan keberkahan.
Tirulah orang-orang yang mengamalkan ilmu mereka dalam perkataan, perbuatan dan niat. Orang-orang yang mengenal Tuhan dan Maha Raja mereka dan mengikuti teladan pemimpin dari para pemimpin. Orang-orang yang ahli taqwa mukhlis dan berakal yang melakukan ketaatan yang paling utama. Di antara mereka imam-ku teladan dan harapanku perantara, penghubung dan tangga yang menaikkan aku.
Kusampaikan nasihatku kepadamu dengan tulus, maka terimalah dariku dan jangan heran atas ciri-ciriku. Aku mengakui kekurangan, kesalahan, ketidak mampuan dan kecerobohan dalam keadaanku. Akan tetapi, aku mempunyai hubungan dengan orang-orang yang kusebut dan kecintaan terbesar bagi mereka pada diriku.
Aku harapkan dengannya syafaat disisi Tuhan Yang Maha Pemurah dan kebaikan yang mengganti kesalahan-kesalahanku. Kami sampaikan kepada mereka shalawat kami setelah Nabi keluarganya di kala sedirian maupun di hadapan orang banyak.
Segala puji bagi Tuhanku, Alkhairaat menjadi marak, di halaman-halamannya terdapat singa-singa dan anak-anaknya. Wahai putra-putri Palu, Alkhairat adalah ibumu, ia mengajak mereka yang mempunyai tujuan dan kemauan. Karena Alkhairaat, negerimu terkenal dengan ilmu. Banyak orang dari berbagai penjuru dunia menuju kepadanya untuk mencari ilmu.
Dulu, tidak ada orang yang mengenalnya (Palu), tetapi sekarang ia berbabangga diri atas berbagai negeri. Ini adalah kenikmatan yang seandainya disadari oleh Abdurrahim, niscaya tidaklah pikiranya menjadi bingung.
Aku menyeru setiap muslim kepada ilmu dan ketaqwaan, dengan keadaan dan hartaku, pena dan mulutku. Kepada Allah aku menyeru mereka dan ini kitab-NYA (Alquran), setiap yang gelap menjadi terang bagi mereka lantaran cahayanya.
Aku serukan untuk mempelajari sunnah sebaik-baik Rasul di dalam terdapat petunjuk cahayanya. Dan ilmu, maka ketahuilah sungguh nikmat bagi siapa yang memenuhi panggilan dan bergegas mencari ridha Allah dan kedekatan untuk mendapat keberuntungan dan keberhasilan.
Kulihat kebodohan terbesar di antara masyarakat, tiada rasa takut kepada Tuhan dan neraka jahannam. Maka obatilah kebodahan hatimu dengan ilmu agama. Siapa yang tidak mengobati kebodohan dengan ilmu, ia akan menyesal.
Wahai putra-putri Alkhairaat, laksanakan kewajiban mengajar, jadilah kalian dalam kelompok terdepan, bagimu teladan pada orang-orang sebelum kamu, guru-guru yang memimpin manusia dengan pemahaman.
Dengan ilmu setiap bangsa menjadi tinggi di antara manusia dan mencapai kemuliaan di antara bangsa-bangsa. Manusia terkadang mengungguli teman-tamannya, jika ia memiliki ilmu terbanyak dengan ilmu akhlak tercapai cita-cita. Jika engkau menginginkan ilmu, janganlah engkau sombong.
Kepada putra-putri Alkhairaat, ku akhiri seruanku, barangkali di antara putra-putrinya yang menonjol memimpin pengajaran di waktu-waktunya, Dialah (Allah) yang meminjamin rezekinya. (disari dari syair-syair Guru Tua). Wallahul Musta’an

Sang Ikon Keteladanan

BAGI Allah swt, Nabi Ibrahim adalah sosok yang istimewa. Tak percaya ? Coba simak firman-Nya: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang bersama dengan-nya” (QS. Al-Mumtahanah : 4). Ayat ini, sangat jelas menunjukan betapa Allah swt., memuliakan Nabi Ibrahim.
Lantas mengapa beliau begitu dimuliakan ? Apakah karena keturunannya, Karena menjadi bapak para Nabi ? Ataukah hartanya, kekuatanya, Atau keperkasaanya ? Tidak ! Beliau termuliakan karena keimanan dan ketaatanya kepada Allah swt.
Keimanan Nabi Ibrahim terbangun dari proses pencarian dirinya secarara rasional terhadap eksistensi Allah swt. Beliaulah yang pertama kali dapat membuktikan keesaan Allah SWT secara rasional dan menolak ketuhanan tuhan-tuhan lainnya secara rasional pula (lihat, QS. Al-An’am : 74-78). Wajar jika sejarah mencatat Beliau sebagai Bapak “Monoteisme” (Tauhid).
Keimanan Nabi Ibrahim kepada Allah swt., dibarengi pula dengan ketaatan yang luar biasa yang mewujudkan pada tindakan yang niscaya teramat sulit ditunaikan manusia pada umumnya. Keteguhan untuk menjalankan dakwah meski berlawanan dengan orang tuanya, dan berhadapan dengan penguasa yang dzalim. Keteguhan menjalankan amanah Allah berupa kesetiaan menjaga istrinya yang sedang mengandung keturunannya, menemaninya hingga kesuatu tempat yang sangat jauh dari keramaian.
Karena keimanan dan ketaatan itu pula membuat Nabi Ibrahin rela megorbankan segala miliknya. Bahkan rela mengorbankan putera tercintanya, Ismail, dengan cara disembelih demi melaksanakan amanah Allah swt. Kecintaan Nabi Ibrahim kepada Allah swt., telah mengalahkan kecintaanya kepada anaknya.
Menjadi wajar manakalah Allah swt., memuliakannya sebagai ikon (simbol) keteladanan bagi ummat sesudahnya. “Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian .“ (QS. As-Shofat : 108).
Idul Adha adalah salah satu bentuk award (pemuliaan) Allah swt., atas Nabiyullah Ibrahim. Sebuah proses Pengabadian tentang “cinta makhluk kepada sang Khalik yang melebihi segalanya”. Itulah sebabnya, Allah swt., menjadikan peristiwa penyembelihan Ismail oleh Nabi Ibrahim, sebagai ubudiyah mahda yang saban tahun kita rayakan dengan menyembelih hewan kurban. Dalam Idul Adha, ketabahan Nabi Ibrahim merelakan puteranya disembelih, dapat kita wujudkan dalam kerelaan kita berbagai daging kurban untuk membahagiakan para tetangga, lingkungan dan saudara-saudara umat Islam lainnya.
Pemuliaan terhadap Nabi Ibrahim, ternyata tidak hanya dengan Idul Adha. Ibadah Haji juga merupakan bentuk lain pemuliaan itu. Sebab Beliaulah bersama puteranya Ismail yang membangun (kembali) fondasi-fondasi Ka’bah (lihat, Q.S. Al-Baqarah : 127).
Ibnu Abbas mengungkapkan bahwa setelah Nabi Ibrahim selasai membangun Ka’bah maka Allah berfirman kepadanya : “Serulah manusia untuk pergi haji”. Nabi Ibrahim agak ragu, apakah suara panggilannya akan didengarkan atau tidak. Ibrahim berkata : “Wahai Tuhanku, bagaimana suaraku ini bisa sampai ?” Kemudian Allah berfirman : “Seru sajalah, Aku (Allah) yang akan menyampaikannya” . Kemudian naiklah Nabi Ibrahim ke Jabal Qubaisy dan menyeru : “Wahai manusia ! Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepadamu untuk berhaji dirumah Allah ini, agar Allah mengganjar kepadamu syurga dan melepaskan dari siksa neraka, maka berhajilah “. Kemudian orang-orang menyahuti panggilan itu sembari membaca Talbiyah.
Demikianlah, Idul Adha yang saban tahun kita rayakan dan Ibadah Haji yang wajib ditunaikan bagi yang mampu, sesungguhmya tidak semata-mata sebuah ibadah. Tetapi sekaligus momentum untuk meneladani perjuangan dan mengenang hasil perjuangan Nabi Ibrahim. Sebuah perjuangan yang berlandaskan cinta akan Allah swt.
Imam Al-Baidhawi berkata, “Cinta adalah keinginan untuk taat”,sementara, al-Zujaj berkata , “Cinta manusia kepada Allah dan Rasul-nya adalah mentaati keduanya dan ridha kepada semua perintah Allah dan ajaran yang dibawah oleh Rasul-Nya. “ Jadi, Kecintaan dan ketaatan adalah dua hal yang tak dapat dipisahkan. Dan pengalaman Nabiyullah Ibrahim, menegaskan : “tak ada cinta tanpa ketaatan, dan tak ada ketaatan tanpa pengorbanan”. Wallahul Musta’an.